neuroscience rasa kagum

apa yang terjadi di otak saat melihat panggung yang megah

neuroscience rasa kagum
I

Bayangkan momen ini. Lampu stadion tiba-tiba padam. Ribuan orang di sekitar kita terdiam. Lalu, satu dentuman bass menggetarkan dada, diikuti tembakan laser dan visual raksasa yang menyala di panggung utama. Pernahkah kita berdiri di tengah situasi seperti itu? Nafas kita seakan berhenti sejenak. Bulu kuduk meremang. Kita merasa sangat kecil, tapi di saat yang sama, merasa sangat hidup. Selama berabad-abad, kita menyebut sensasi misterius ini sebagai rasa kagum, atau awe. Kita sering menganggapnya sebagai reaksi emosional biasa. Tapi tahukah teman-teman, apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kepala kita pada detik-detik tersebut?

II

Dulu, nenek moyang kita mungkin merasakan awe saat menatap tebing Grand Canyon untuk pertama kalinya, atau saat melihat hamparan Bima Sakti di langit malam yang bersih. Sekarang, kita sering menemukan sensasi purba ini di depan panggung festival musik yang megah atau teater berskala epik. Secara psikologis, rasa kagum muncul ketika kita dihadapkan pada sesuatu yang begitu besar dan kompleks. Begitu besarnya, hingga otak kita kesulitan memprosesnya. Skema mental kita kewalahan. Otak kita seperti komputer yang tiba-tiba nge-hang sejenak karena dipaksa membuka file berukuran terabyte. Nah, mari kita bedah hard science-nya. Ketika mata kita menangkap tata cahaya yang epik dan telinga kita menyerap suara yang menggelegar, ada sirkuit spesifik di otak kita yang mendadak berubah fungsi. Kira-kira, bagian mana dari otak kita yang diam-diam "dimatikan" oleh panggung megah tersebut?

III

Untuk menjawabnya, kita harus berkenalan dengan Default Mode Network (DMN). Ini adalah jaringan di otak yang paling aktif saat kita sedang melamun, mengkhawatirkan tagihan, atau memikirkan gengsi kita sendiri. Singkatnya, DMN adalah pusat dari ego atau si "aku". Menariknya, hasil pemindaian fMRI dari para ilmuwan saraf menunjukkan fakta yang luar biasa. Saat kita merasakan awe yang mendalam, aktivitas DMN ini mendadak anjlok. Ego kita secara harfiah dimatikan oleh otak. Kita berhenti memikirkan masalah pribadi. Di detik yang sama, otak membanjiri sistem kita dengan koktail kimiawi. Ada dopamine yang membuat kita merasa bahagia dan sangat fokus pada panggung. Lalu ada lonjakan oxytocin, hormon pelukan yang biasanya muncul saat kita merasa dekat dengan keluarga atau orang yang kita cintai. Tapi tunggu dulu, ini aneh. Kenapa otak melepaskan hormon koneksi sosial saat kita sedang menatap tata panggung berupa logam, layar LED, dan cahaya? Apa tujuan evolusi di balik reaksi kimia ini?

IV

Di sinilah letak keajaiban sebenarnya. Panggung yang megah itu tidak hanya memanjakan indera kita, tapi juga meretas perangkat lunak evolusi kita. Ketika DMN mati dan ego kita menyusut, kita mengalami fenomena neurologis yang disebut the small self. Saat kita merasa kecil di hadapan sesuatu yang maha besar, batas antara "saya" dan "orang lain" menjadi sangat kabur. Itulah alasan mengapa oxytocin disuntikkan secara deras oleh otak. Ratusan ribu tahun lalu, evolusi mendesain rasa kagum untuk satu tujuan krusial: mengubah kita dari individu yang egois menjadi sebuah kelompok yang solid. Rasa kagum memaksa kita untuk menyingkirkan perbedaan dan bekerja sama. Jadi, panggung megah itu bukan sekadar hiburan komersial. Ia adalah sebuah simulasi raksasa. Ia menipu otak kita agar merasa terhubung dan bersaudara dengan ribuan orang tak dikenal di sebelah kita. Kita bernyanyi bersama, melompat bersama, lebur menjadi satu organisme raksasa.

V

Pada akhirnya, awe adalah pengingat tentang betapa puitisnya biologi manusia. Kita bersusah payah mendesain teknologi panggung yang luar biasa rumit, menghabiskan miliaran rupiah untuk visual dan audio, hanya untuk menyentuh sirkuit purba di dalam kepala kita. Jadi, lain kali teman-teman berdiri di depan panggung yang megah, nikmatilah sensasi merinding itu. Sadarilah bahwa saat mata kita terbelalak melihat cahaya laser, otak kita sedang melakukan pekerjaan yang sangat indah. Ia sedang mengecilkan ego kita, mengusir rasa cemas, dan diam-diam memeluk semua orang di sekitar kita. Di dunia modern yang sering kali terasa terasing dan individualis ini, berdiri bersama menatap kemegahan mungkin adalah salah satu terapi psikologis terbaik yang kita miliki.